Rabu, 12 Juni 2013

EFISIENSI
Untuk tujuan-tujuan perencanaan, dianggap bahwa seperlima sampai seperempat dari jumlah air yang diambil akan hilang sebelum air itu sampai disawah. Kehilangan ini disebabkan oleh kegiatan eksploitasi, evaporasi dan perembesan. Kehilangan akibat evaporasi dan perembesan umumnya kecil saja jika dibandingkan dengan jumlah kehilangan akibat eksploitasi. Penghitungan rembesan hanya dilakukan apabila kelulusan tanah cukup tinggi.
Untuk tujuan-tujuan perencanaan, dianggap bahwa seperlima sampai seperempat dari jumlah air yang diambil akan hilang sebelum air itu sampai disawah. Kehilangan ini disebabkan oleh kegiatan eksploitasi, evaporasi dan perembesan. Kehilangan akibat evaporasi dan perembesan umumnya kecil saja jika dibandingkan dengan jumlah kehilangan akibat eksploitasi. Penghitungan rembesan hanya dilakukan apabila kelulusan tanah cukup tinggi.
Pemakaian air hendaknya diusahakan seefisien mungkin, terutama untuk daerah dengan ketersedian air yang terbatas. Pada umumnya kehilangan air di jaringan irigasi dapat dibagi-bagi sebagai berikut (Direktorat Jenderal Pengairan, 1986) ;
-          12,5 - 20 % di petak tersier, antara bangunan sadap tersier dan sawah
-          5 - 10% di saluran sekunder

-          5 - 10% di saluran utama
DEBIT RENCANA
Debit rencana sebuah saluran dihitung dengan rumus umum berikut, (Direktorat Jenderal Pengairan, 1986)  :
Q         =    (NFR x A) / e........................................................................ …..... (2-2)
 Keterangan  :
Q         Debit rencana   (1iter/dtk//Ha)
NFR    Kebutuhan bersih (netto) air di sawah (liter/dtk/ha)
A         Luas daerah yang diairi, (Ha)
e          Efisiensi irigasi secara keseluruhan


Jika air yang mengalir oleh jaringan juga untuk keperluan selain irigasi, maka debit rencana harus ditambah dengan jumlah yang dibutuhkan untuk keperluan irigasi itu, dengan memperhitungkan efisiensi pengaliran (Direktorat Jenderal Pengairan, 1986) .

Kebutuhan Air Sawah (NFR)

KEBUTUHAN AIR SAWAH
Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut ;
1.        Cara penyiapan lahan
2.        Kebutuhan air pada tanaman
3.        Perkolasi dan rembesan
4.        Penggantian lapisan air
5.        Curah hujan efektif
Kebutuhan total air disawah (GFR) mencakup faktor 1 sampai 4. Kebutuhan bersih (netto) air disawah (NFR) juga memperhitungkan curah hujan efektif. Besarnya kebutuhan air disawah bervariasi menurut tahap pertumbuhan tanaman dan bergantung kepada cara pengolahan lahan. Besarnya kebutuhan air disawah dinyatakan dalam mm/hari (Direktorat Jenderal Pengairan, 1986) .
NFR    Etc + P – Re + Wlr ..................................................... …… (2-1)
Keterangan  :
NFR    =   Kebutuhan  bersih  air  untuk  padi  (mm/ hari)
WLR   =  Penggantian  Lapisan Air (mm/hari)
Re        =  Curah Hujan efektif (mm/hari)
Etc       =  Evapotransipirasi   Tanaman  (mm/hari)
        =  Perkolasi (mm/hari)

(Direktorat Jenderal Pengairan, 1986)

Debit Andalan (Dependable Flow)


DEBIT ANDALAN
Debit andalan (dependable flow) adalah debit minimum sungai untuk kemungkinan terpenuhi yang sudah ditentukan yang dapat dipakai untuk irigasi. Kemungkinan terpenuhi ditetapkan 80% (kemungkinan bahwa debit sungai lebih rendah dari debit andalan adalah 20%). Debit andalan ditentukan untuk periode tengah–bulanan. Debit minimum sungai dianalisis atas dasar data debit harian sungai agar analisis cukup tepat dan andal, catatan data yang diperlukan harus meliputi jangka waktu paling sedikit 10 tahun. Jika persyaratan ini tidak bias dipenuhi, maka metode hidrologi analisis dan empiris biasa dipakai. Dalam menghitung debit andalan kita harus mempertimbangkan air yang diperlukan dari sungai hilir pengambilan. 
Dalam praktek ternyata debit andalan dari waktu ke waktu mengalami penurunan seiring dengan fungsi daerah tangkapan air. Penurunan debit andalan dapat menyebabkan kinerja irigasi berkurang yang mengakibatkan pengurangan areal persawahan. Antisipasi keadaan ini perlu dilakukan dengan memasukkan factor koreksi sebesar 80% sampai dengan 90% untuk debit andalan. Faktor koreksi tersebut tergantung pada kondisi perubahan DAS (Direktorat Jenderal Pengairan, 1986) .